Kamis, 12 Maret 2015

UNTUK MU GURU ...

RESTORASI DAN TRANSFORMASI MENUJU PERADABAN
Oleh: Muhammad Irwan Wahyudi

Kepemimpinan membutuhkan harmonisasi antara kematangan pribadi dan keterampilan profesional. Tidak semua orang bisa memimpin tanpa bekal kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, dan tidak semua pimpinan mampu memerankan kepemimpinannya sesuai dengan keinginan yang dipimpinnya.
Dalam dunia pendidikan guru adalah sosok pemimpin yang sangat berperan dalam memproduk karakter peserta didik. Guru sebagai pendidik harus bisa menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian , serta abadi sepanjang masa. Sebagai pendidik seorang guru tentunya harus mampu berperan menjadi apa saja demi terciptanya suatu peradaban negeri yang ditandai dengan out put pendidikan yang berkualitas. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayan, adalah trilogi pendidikan penuh makna yang dibawa Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui semangat juangnya.
Kepemimpinan seorang guru akan nampak dengan kemampuannya me-restorasi trilogi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Pertama, Ing ngarsa sung tuladha memiliki makna, di depan, seorang guru harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik. Selain mengajar atau mentransfer ilmu, guru harus bisa memberikan teladan kepada siswanya, setidaknya mengenai hal yang diajarkannya. Kedua, Ing madya mangun karsa, maksudnya, di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Di sini guru harus bisa memberi wawasan pengetahuan kepada siswa-siswinya. Harus dicermati, bahwa mereka harus bisa memberi wawasan bukan hanya membaca ulang apa-apa yang sudah tertera di buku yang dipegang siswa. Atau, malah hanya memberi soal-soal saja dan siswa diminta mengerjakan. Di wilayah ini, sebisa mungkin guru menanamkan pendidikan karakter kepada siswa meskipun tidak secara langsung. Dari materi-materi yang disampaikan pasti ada muatan karakter yang bisa ditunjukkan pada siswa. Nilai-nilai pembangun karakter sangat urgen untuk dimiliki setiap siswa yang merupakan generasi bangsa kita. Ketiga, Tut wuri handayani, yakni, dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Inilah tugas utama guru yang harus pula dilakukan yaitu sebagai motivator. Bagaimana para pendidik bisa menumbuhkan dan merangsang serta mengarahkan setiap potensi yang dimiliki siswa, merupakan hal yang harus difikirkan. Harapannya, mereka dapat memanfaatkan potensinya secara tepat, sehingga lebih tekun dan semangat dalam belajar untuk mengejar cita-cita yang diinginkan.
Selain restorasi trilogi pendidikan, kepemimpinan pada seorang guru juga harus ditopang dengan kepribadian yang luhur dalam kesehariannya. Tidak ada salahnya guru juga belajar dari filosofi pewayangan yang di gagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, yaitu punakawan ; Semar, Petruk, Bagong dan  Nala Gareng. Semar berasal dari kata bahasa Arab yakni "Mismar" yang dalam lidah Jawa menjadi Semar. Sedang Mismar sendiri berarti paku, dimana fungsinya adalah sebagai pengokoh dan melambangkan pedoman hidup manusia. Guru tentunya harus mampu menjadi pedoman bagi murid, petunjuk kepada kebaikan. Petruk sendiri berasal dari kata "Fatruk" yang dicukil dari kalimat Tasawuf "Fat-ruk kulla maa siwallahi" yang artinya tinggalkan semua apapun selain Allah. Sebagai pemimpin, guru harus mampu men-transformasi nilai-nilai universal Ketuhanan pada setiap mata pelajaran kepada para murid, sehingga semakin bertambah pengetahuan, semakin dekat murid dengan Tuhannya, Allah SWT. Bagong berakar dari kata Baqa’ (Orang jawa sering mengucapakn huruf 'ain dengan lafadz "ngain") yang bermakna kelanggengan atau keabadian. Guru sebagai pemimpin harus mampu mempengaruhi para siswa untuk langgeng (istiqomah) bersama-sama berbuat kebaikan dalam keseharian, sebagai bekal hidup di akhirat kelak. Sedangkan Nala Gareng, berasal dari kata "Naala Qariin" yang bermakna memperoleh banyak teman. Pemimpin harus mampu membangun relasi (hablum minannaas) dengan siapa saja. Guru sebagai pemimpin harus menjadikan murid kolega, teman dalam keseharian, Sehingga murid akan merasa dekat dan tidak merasa menjadi objek saat guru tersebut marah padanya.
Akulturasi dan transformasi antara kepribadian luhur dari ajaran pewayangan Jawa Kanjeng Sunan Kalijaga dengan trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara, akan memposisikan guru sebagai pemimpin yang bukan hanya menjadi ustaziyatul ‘ilmi (guru akademis) tetapi menjadi ustaziyatul alam (guru peradaban).
Sekarang sudah bukan saatnya lagi guru mengajar hanya sekedar menuntaskan tuntutan kurikulum yang hanya akan menghasilkan hunter-hunter akademis. Mereka harus memiliki idealisme untuk mengajar dan mendidik siswa. Melalui merekalah generasi bangsa kita berproses. Setiap proses itu semestinya berjalan sebaik-baiknya agar menghasilkan produk pendidikan yang benar-benar umggul guna membangun peradaban. Bukan yang secara intelektual unggul namun moralitasnya hancur.



































Tidak ada komentar:

Posting Komentar