RESTORASI DAN TRANSFORMASI MENUJU PERADABAN
Oleh: Muhammad Irwan Wahyudi
Kepemimpinan membutuhkan harmonisasi
antara kematangan pribadi dan keterampilan profesional. Tidak semua orang bisa memimpin tanpa bekal kemampuan untuk
menjadi seorang pemimpin, dan tidak semua pimpinan mampu memerankan
kepemimpinannya sesuai dengan keinginan yang dipimpinnya.
Dalam
dunia pendidikan guru adalah sosok pemimpin yang sangat berperan dalam
memproduk karakter peserta didik. Guru sebagai pendidik harus bisa menjadi
pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian , serta
abadi sepanjang masa. Sebagai pendidik seorang guru
tentunya harus mampu berperan menjadi apa saja demi terciptanya suatu peradaban
negeri yang ditandai dengan out put pendidikan yang berkualitas. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayan, adalah trilogi pendidikan penuh makna yang dibawa Bapak
Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui
semangat juangnya.
Kepemimpinan seorang guru akan nampak dengan kemampuannya me-restorasi
trilogi pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kegiatan
pembelajaran sehari-hari. Pertama, Ing ngarsa sung tuladha
memiliki makna, di depan, seorang guru harus memberi teladan atau contoh
tindakan yang baik. Selain mengajar atau mentransfer ilmu, guru harus bisa
memberikan teladan kepada siswanya, setidaknya mengenai hal yang diajarkannya. Kedua,
Ing madya mangun karsa, maksudnya, di tengah atau di antara murid, guru
harus menciptakan prakarsa dan ide. Di sini guru harus bisa memberi
wawasan pengetahuan kepada siswa-siswinya. Harus dicermati, bahwa mereka harus
bisa memberi wawasan bukan hanya membaca ulang apa-apa yang sudah tertera di
buku yang dipegang siswa. Atau, malah hanya memberi soal-soal saja dan siswa
diminta mengerjakan. Di wilayah ini, sebisa mungkin guru menanamkan pendidikan
karakter kepada siswa meskipun tidak secara langsung. Dari materi-materi yang
disampaikan pasti ada muatan karakter yang bisa ditunjukkan pada siswa.
Nilai-nilai pembangun karakter sangat urgen untuk dimiliki setiap siswa yang
merupakan generasi bangsa kita. Ketiga, Tut wuri handayani,
yakni, dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Inilah tugas utama guru yang harus pula dilakukan yaitu sebagai motivator.
Bagaimana para pendidik bisa menumbuhkan dan merangsang serta mengarahkan
setiap potensi yang dimiliki siswa, merupakan hal yang harus difikirkan.
Harapannya, mereka dapat memanfaatkan potensinya secara tepat, sehingga lebih
tekun dan semangat dalam belajar untuk mengejar cita-cita yang diinginkan.
Selain restorasi trilogi pendidikan, kepemimpinan pada
seorang guru juga harus ditopang dengan kepribadian yang luhur dalam
kesehariannya. Tidak ada salahnya guru juga belajar dari filosofi pewayangan
yang di gagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, yaitu punakawan ; Semar, Petruk,
Bagong dan Nala Gareng. Semar berasal dari
kata bahasa Arab yakni "Mismar" yang dalam lidah Jawa menjadi Semar.
Sedang Mismar sendiri berarti paku, dimana fungsinya adalah sebagai pengokoh
dan melambangkan pedoman hidup manusia. Guru tentunya harus mampu menjadi
pedoman bagi murid, petunjuk kepada kebaikan. Petruk sendiri berasal
dari kata "Fatruk" yang dicukil dari kalimat Tasawuf "Fat-ruk
kulla maa siwallahi" yang artinya tinggalkan semua apapun selain Allah.
Sebagai pemimpin, guru harus mampu men-transformasi nilai-nilai
universal Ketuhanan pada setiap mata pelajaran kepada para murid, sehingga
semakin bertambah pengetahuan, semakin dekat murid dengan Tuhannya, Allah SWT. Bagong
berakar dari kata Baqa’ (Orang jawa sering mengucapakn huruf 'ain dengan lafadz
"ngain") yang bermakna kelanggengan atau keabadian. Guru sebagai
pemimpin harus mampu mempengaruhi para siswa untuk langgeng (istiqomah)
bersama-sama berbuat kebaikan dalam keseharian, sebagai bekal hidup di akhirat
kelak. Sedangkan Nala Gareng, berasal dari kata "Naala Qariin"
yang bermakna memperoleh banyak teman. Pemimpin harus mampu membangun relasi (hablum
minannaas) dengan siapa saja. Guru sebagai pemimpin harus menjadikan murid
kolega, teman dalam keseharian, Sehingga murid akan merasa dekat dan tidak
merasa menjadi objek saat guru tersebut marah padanya.
Akulturasi dan transformasi antara
kepribadian luhur dari ajaran pewayangan Jawa Kanjeng Sunan Kalijaga dengan
trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara, akan memposisikan guru sebagai pemimpin
yang bukan hanya menjadi ustaziyatul
‘ilmi (guru akademis) tetapi menjadi ustaziyatul
alam (guru peradaban).
Sekarang sudah bukan saatnya lagi guru mengajar hanya sekedar menuntaskan
tuntutan kurikulum yang hanya akan menghasilkan hunter-hunter akademis.
Mereka harus memiliki idealisme untuk mengajar dan mendidik siswa. Melalui
merekalah generasi bangsa kita berproses. Setiap proses itu semestinya berjalan
sebaik-baiknya agar menghasilkan produk pendidikan yang benar-benar umggul guna
membangun peradaban. Bukan yang secara intelektual unggul namun moralitasnya
hancur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar