
“GURU MONYET, BUKAN GURU BIASA” yang ditulis oleh Astvat-ereta, begitu nama penanya.
Buku yang sangat menginspirasi siapa saja yang membacanyaDalam pengantarnya dengan judul “Guru adalah Profesi Manusia Setengah Dewa” oleh Munif Chatib (penulis buku-buku pendidikan best seller). Ia menyampaikan bahwa dalam islam guru disebut Murabbiy, Mu’addib atau mu’allim.
Pertama, guru itu Murabbiy, yaitu orang yang selalu memelihara (Al-qur’an surat Al-Israa : 102 ) Memelihara itu tidak sederhana, ia memiliki unsure menjaga dari kerusakan. Jadi guru sebenranya harus menjadi “agent of change” (ga Cuma mahasiswa yaa) :p iya rela menerima anak didiknya dalam keadaan apapun atau apa adanya bukan ada apanya J. Jadi tugas agent of change ini adalah mengubah dari yang negatif menjadi positif. yang buruk jadi baik, yang bauk semakin baik. Ketika guru membedakan anak didiknya (misalnya anak pintar dan tidak pintar)maka perannya sebagai murabbiy GUGUR. L
Kedua,Guru adalah mu’addib yaitu orang yang melakukan pekerjaan mendidik. Mendidik cenderung mengarah pada akhlakul karimah anak didik, dan syarat mutlakia mampu terpenuhi adalah akhlak sang pendidik lebih dahulu harus baik Hal ini berkenaan bahwa seorang pendidik adalah “uswatun hasanah” atau tauladan bagi anak didiknya. Tentu hal ini jelas tak bisa hanya diselesaikan dengan mata pelajaran IPS maupun IPA.
Ketiga, Guru adalah Mu’allim, yaitu orang yang mengajarkan sesuatu. Sudah jelas seorang guru mengajarkan sesuatu yang anak didiknya belum tahu, seperti membaca, menulis atau menghitung. Hal ini menurut Munif Chatib adalah berkaitan dengan melatih keterampilan dan kecakapan hidup anak didiknya. Menurutnya ketiga fungsi ini bertahap yaitu mu’allim, mu’addib lalu yang tertinggi adalah murabbiy.
Lalu apakah kita hanya akan menjadi guru yang biasa-biasa saja ? Semua memang butuh proses, tak semudah membalikkan telapak tangan. Masih banyak anak tangga yang harus kita lewati, tentu semua itu akan kita raih hanya dengan satu cara yaitu : TERUS BELAJAR.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar