(Mengenal Penyakit Hati)
Riya'
Riya itu, menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) berkaitan
dengan dua hal penting, yaitu: gila hormat dan popularitas (hub
al-jah wa al-syuhrah).[1] Itu sebabnya, dalam Islam, riya’ hukumnya “haram” dan
pelakunya sangat dibenci Allah (mamquth). Sehingga banyak sekali ayat
Al-Qur’an yang menegaskan hal ini. Diantaranya adalah Firman Allah, “Celakalah
orang-orang yang shalat. Yaitu (mereka) yang lalai dalam shalatnya. Yang
berlaku riya’ di dalam melakukannya.” (Qs. Al-Ma’un [107]: 4-6).[2]
Dalam makna yang sangat sederhana, riya’ ini dapat dimaknai
dengan “pamer”: suka dilihat orang dan senang dipuji. Tempat riya’ ini
adalah hati. Itu sebabnya ia sukar dideteksi, kecuali oleh orang-orang yang
diikhlaskan oleh Allah hatinya. Sehingga dia merasa bahwa dirinya sedang tidak
ikhlas alias riya’. Jadi, riya’ adalah penyakit hati yang sangat
berbahaya. Karena dapat menjangkiti siapa saja, karena manusia memiliki sifat
ingin dipuji, dihormati dan diagungkan. Padahal riya’ merupakan penyakit
hati yang amat tersembunyi. Hal ini, misalnya, dijelaskan oleh Rasulullah saw
dalam satu sabdanya di bawah ini:
إِنَّ
أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الرِّيَاءُ والشَّهْوَةُ الخَفَيَّةُ
الَّتِـى هـِىَ أَخْفـَى مِنْ دِبِيْبِ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى
الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فــِى اللَّيْلَةِ الظُّلْمَاءِ
Sungguh, yang amat aku takutkan dari ummatku adalah: riya’ dan
syahwat yang tersembunyi. Ia lebih tak kelihatan dari jalan semut hitam di atas
batu yang hitam di malam gelap gulita (HR. Ibn Majah, al-Hakim, dari hadits Syadad ibn
Aws).[3]
Jadi, orang yang riya’ sejatinya menyembunyikan
ketidak-ikhlasan. Amal-perbuatannya selalu ingin dilihat orang, dipuji,
disebarkan, dibesar-besarkan. Padahal ini akan menyiksa perasaannya, karena
amalnya dipersembangkan untuk makhluk, bukan untuk Sang Khaliq. Untuk itu, kata
Aa Gym, beruntunglah orang-orang yang tidak disiksa oleh kerinduan untuk dipuji
dan dihormati oleh orang lain. Kalau kita mau jujur, kita akan sengsara karena
terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain. Jika perkara duniawi dan ukhrawi
(akhirat) dilakukan hanya untuk mendapat pujian, penghormatan dan penilaian
manusia, maka sesungguhnya kita telah diserang penyakit riya’.[4]
Itu sebabnya penyakit ini harus cepat diobati. Dan obatnya adalah
ikhlas. Kita harus yakin bahwa meskipun tidak dilihat oleh makhluk, di dekat
kita ada Allah yang Mahamelihat segala amal dan perbuatan kita. Mari kita
belajar menata niat, karena niat kata Imam Ibn Taimiyah (w. 728 H) merupakan
inti amal-saleh. Yaitu keikhlasan hamba karena Allah. Karena itulah, menurut
beliau, ulama salaf suka mengawali majelis dan kitab mereka dengan hadis:
“Perbuatan itu tergantung pada niatnya.”[5] Untuk itu, mari kita renungkan pendapat al-Harits al-Muhasibi
di bawah ini:
“Orang yang tulus adalah orang yang tak
peduli bila makhluk menilai lain dirinya demi menjaga hatinya. Tak pula senang
bila orang-orang mengetahui kebaikannya walau setitik. Dan tak pula benci bila
orang-orang mengetahui keburukannya.”[6]
[1]Lihat,
Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihya’
‘Ulum al-Din, 4 Jilid (Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, 1428-1429 H/2008 M), 3:
281.
[2]Syekh
Muhammad Jamaluddin al-Qasimi al-Dimasyqi, Maw`izhat al-Mu’minin min
Ihya’ ‘Ulum al-Din, 2 Jilid dalam 1 Volume (Jakarta: Dar al-Kutub
al-Islamiyyah, 1426 H/2005), 2: 66.
[3]Lihat,
Imam al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3: 281. Lihat juga, Imam
Jalaluddin al-Qasimi, Maw`izhat al-Mu’mini min Ihya’ ‘Ulum al-Din,
2: 66.
[4]KH.
Abdullah Gymnastiar, Menggapai Qalbun Saliim: Bengkel Hati Menuju Akhlak
Mulia (Gegerkalong Girang-Bandung: Khas MQ, cet. III, 1427 H/2006 M), hlm.
29.
[5]Izza
Rohman Nahrawi (ed.), Ikhlas Tanpa Batas: Belajar Hidup Tulus dan Wajar
kepada 10 Ulama-Psikolog Klasik (Jakarta: Zaman, 2010), hlm. 17.
[6]Ibid.,
hlm. 32-33.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar