Rabu, 18 Maret 2015


(Mengenal Penyakit Hati)

Riya'
Riya itu, menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) berkaitan dengan dua hal penting, yaitu: gila hormat dan popularitas (hub al-jah wa al-syuhrah).[1] Itu sebabnya, dalam Islam, riya’ hukumnya “haram” dan pelakunya sangat dibenci Allah (mamquth). Sehingga banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal ini. Diantaranya adalah Firman Allah, “Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu (mereka) yang lalai dalam shalatnya. Yang berlaku riya’ di dalam melakukannya.” (Qs. Al-Ma’un [107]: 4-6).[2]
Dalam makna yang sangat sederhana, riya’ ini dapat dimaknai dengan “pamer”: suka dilihat orang dan senang dipuji. Tempat riya’ ini adalah hati. Itu sebabnya ia sukar dideteksi, kecuali oleh orang-orang yang diikhlaskan oleh Allah hatinya. Sehingga dia merasa bahwa dirinya sedang tidak ikhlas alias riya’. Jadi, riya’ adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena dapat menjangkiti siapa saja, karena manusia memiliki sifat ingin dipuji, dihormati dan diagungkan. Padahal riya’ merupakan penyakit hati yang amat tersembunyi. Hal ini, misalnya, dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam satu sabdanya di bawah ini:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الرِّيَاءُ والشَّهْوَةُ الخَفَيَّةُ الَّتِـى هـِىَ أَخْفـَى مِنْ دِبِيْبِ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فــِى اللَّيْلَةِ الظُّلْمَاءِ
Sungguh, yang amat aku takutkan dari ummatku adalah: riya’ dan syahwat yang tersembunyi. Ia lebih tak kelihatan dari jalan semut hitam di atas batu yang hitam di malam gelap gulita (HR. Ibn Majah, al-Hakim, dari hadits Syadad ibn Aws).[3]
Jadi, orang yang riya’ sejatinya menyembunyikan ketidak-ikhlasan. Amal-perbuatannya selalu ingin dilihat orang, dipuji, disebarkan, dibesar-besarkan. Padahal ini akan menyiksa perasaannya, karena amalnya dipersembangkan untuk makhluk, bukan untuk Sang Khaliq. Untuk itu, kata Aa Gym, beruntunglah orang-orang yang tidak disiksa oleh kerinduan untuk dipuji dan dihormati oleh orang lain. Kalau kita mau jujur, kita akan sengsara karena terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain. Jika perkara duniawi dan ukhrawi (akhirat) dilakukan hanya untuk mendapat pujian, penghormatan dan penilaian manusia, maka sesungguhnya kita telah diserang penyakit riya’.[4]
Itu sebabnya penyakit ini harus cepat diobati. Dan obatnya adalah ikhlas. Kita harus yakin bahwa meskipun tidak dilihat oleh makhluk, di dekat kita ada Allah yang Mahamelihat segala amal dan perbuatan kita. Mari kita belajar menata niat, karena niat kata Imam Ibn Taimiyah (w. 728 H) merupakan inti amal-saleh. Yaitu keikhlasan hamba karena Allah. Karena itulah, menurut beliau, ulama salaf suka mengawali majelis dan kitab mereka dengan hadis: “Perbuatan itu tergantung pada niatnya.”[5] Untuk itu, mari kita renungkan pendapat al-Harits al-Muhasibi di bawah ini:
“Orang yang tulus adalah orang yang tak peduli bila makhluk menilai lain dirinya demi menjaga hatinya. Tak pula senang bila orang-orang mengetahui kebaikannya walau setitik. Dan tak pula benci bila orang-orang mengetahui keburukannya.”[6]


[1]Lihat, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4 Jilid (Beirut-Lebanon: Dar al-Fikr, 1428-1429 H/2008 M), 3: 281. 
[2]Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi al-Dimasyqi, Maw`izhat al-Mu’minin min Ihya’ ‘Ulum al-Din, 2 Jilid dalam 1 Volume (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1426 H/2005), 2: 66.
[3]Lihat, Imam al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3: 281. Lihat juga, Imam Jalaluddin al-Qasimi, Maw`izhat al-Mu’mini min Ihya’ ‘Ulum al-Din, 2: 66.
[4]KH. Abdullah Gymnastiar, Menggapai Qalbun Saliim: Bengkel Hati Menuju Akhlak Mulia (Gegerkalong Girang-Bandung: Khas MQ, cet. III, 1427 H/2006 M), hlm. 29.
[5]Izza Rohman Nahrawi (ed.), Ikhlas Tanpa Batas: Belajar Hidup Tulus dan Wajar kepada 10 Ulama-Psikolog Klasik (Jakarta: Zaman, 2010), hlm. 17.
[6]Ibid., hlm. 32-33. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar